Oleh Ruhyana dan Tatang Al Ayubi
I. PENDAHULUAN
Belajar sejarah pada dasanya tentang kehidupan masyarakat. Pembelajaran sejarah di sekolah sebaiknya lebih mudah dipahami siswa. Dalam pembelajaran sejarah hendaknya siswa dapat melihat langsung kehidupan yang nyata. Bukan sebaliknya belajar sejarah malah menghafal kejadian masa lalu yang dituliskan dalam beberapa buku literature sejarah, baik pelaku, waktu kejadian maupun segala hal yang berhubungan dengan itu semua.
Sasaran pembelajaran sejarah di sekolah pada umumnya menurut S.K. Kochhar adalah untuk mengembangkan pemahaman tentang diri sendiri,memberikan gambaran yang tepat tentang konsep waktu, ruang dan masyarakat, membuat masyarakat mampu mengetahui nilai-nilai dan hasil yang telah dicapai oleh generasinya, mengajarkan toleransi, menanamkan sikap intelektual, memperluas cakrawala intelektualitas, mengajarkan prinsip-prinsip moral, menanamkan orientasi ke masa depan, memberikan pelatihan mental, melatih isu-isu kontroversial, membantu memberikan jalan keluar bagi berbagai masalah sosial dan perseorangan, memperkokoh rasa nasionalisme, mengembangkan pemahaman internasional, dan mengembangkan keterampilan-keterampilan yang berguna.[1]
Secara garis besar terdapat tiga kegunaan mempelajari sejarah dalam pembelajaran yaitu: kegunaan edukatif, inspiratif, dan rekreatif ,instruktif. Kegunaan edukatif karena sejarah dapat memberikan kearifan bagi yang mempelajarinya, yang dirumuskan oleh Bacon: “histories make man wise”. Sejarah pada masa lampau tidak dapat dipisahkan dari kemasakinian, karena semangat dan tujuan untuk mempelajari sejarah ialah nilai kemasakiniannya. Hal ini tersirat dari kata-kata Croce bahwa “all history is contemporary history”, yang kemudian dikembangkan oleh Carr bahwa sejarah adalah “unending dialogue between the present and the past”. [2]
Sejarah memiliki guna inspiratif karena sejarah dapat memberikan inspirasi kepada kita tentang gagasan-gagasan dan konsep-konsep yang dapat digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan masa kini, khususnya yang berkaitan dengan semangat untuk mewujudkan identitas sebagai suatu bangsa dan pembangunan bangsa.
Sejarah memiliki guna rekreatif karena dengan membaca tulisan sejarah kita seakan-akan melakukan “perlawatan sejarah” karena menerobos batas waktu dan tempat menuju zaman masa lampau untuk “mengikuti” peristiwa yang terjadi. Sementara itu guna instruktif merupakan kegunaan sejarah untuk menunjang bidang-bidang ketrampilan tertentu.[3]
Dalam hubungannya dengan guna edukatif dan inspiratif dari sejarah, dapat dikemukakan bahwa sejarah memiliki kaitan yang sangat erat dengan pendidikan pada umumnya dan pendidikan karakter bangsa pada khususnya. Melalui sejarah dapat dilakukan pewarisan nilai-nilai dari generasi terdahulu ke generasi masa kini. Dari pewarisan nilai-nilai itulah akan menumbuhkan kesadaran sejarah, yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk pembangunan watak bangsa (nation character building).
Tujuan pembelajaran sejarah pada umumnya tidak sepenuhnya dapat tercapai yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain yang berkaitan dengan proses pembelajarannya. Dalam hal ini guru menduduki posisi yang penting dan strategis dalam peningkatan kualitas pembelajaran sejarah. Sehubungan dengan hal itu, guru harus selalu meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sejarah, dengan memperhatikan empat pilar pembelajaran sebagaimana telah dideklarasikan oleh Unesco (1988), yaitu: 1) learning to know (pembelajaran untuk tahu), learning to do (pembelajaran untuk berbuat), 3) learning to be (pembelajaran untuk membangun jati diri, dan 4) learning to live together (pembelajaran untuk hidup bersama secara harmonis).[4]
Bagaimana yang terjadi pada pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam ( SKI) pada SD, SMP dan SMA/SMK yang merupakan salah satu standar isi dari Pendidikan Agama Islam dengan posisi tiap semester hanya 1 pokok bahasan dengan berada pada ujung waktu pembelajaran. Banyak ditemukan di beberapa sekolah materi SKI ini tidak sempat terpelajari atau tidak terbahas sesuai dengan tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam. SKI sebagai salah satu bagian dari Pendidikan Agama Islam, maka tujuan pembelajaran SKI tentunya tidak terlepas dari tujuan pendidikan agama Islam yaitu pembentukan sikap keagamaan yang harus diutamakan bukan penguasaan materi sejarah itu sendiri.
Dengan masuknya materi SKI dalam pendidikan agama Islam tentunya, membutuhkan secara ekstra seorang Guru Pendidikan Agama Islam ( GPAI) bagaimana menyelenggarakan pembelajaran SKI sebagai bagian dari pendidikan agama Islam, dan pembelajaran sejarah sebagai bagian secara integral dari pendidikan agama Islam dengan tujuan pembentukan sikap keagamaan yang tertanam dalam setiap jiwa peserta didik SD, SMP, SMA/SMK.[5]
Akan tetapi karena terlalu luasnya pokok bahasan SKI pada sekolah baik SD, SMP, SMA/SMK, maka kami sebagai pemakalah akan membatasi permasalahan yang berhubungan dengan pembelajaran SKI di SMP. Hal ini karena pemakalah bertugas di SMP yang tentunya sudah memahami seluk beluk pembelajaran SKI di SMP sebagai bahan sharing dalam diskusi kelas.
Dalam makalah ini teridentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:
1) Bagaimana pengaruh literature pembelajaran SKI dalam pembelajaran PAI SMP?
2) Bagaimana menyiasati ketersediaan literatur SKI dalam pembelajaran PAI SMP?
3) Bagaimana bahan ajar SKI dalam pembelajaran PAI SMP?
4) Bagaimana solusi pembelajaran SKI dalam pembelajaran PAI SMP?
II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Literatur dan bahan ajar Sejarah Kebudayaan Islam
Literatur berasal dari bahasa Latin litterae bentuk jamak dari letter (surat) yaitu karya seni tertulis yang tidak terikat diterbitkan dan dipublikasikan. Secara harfiah diterjemahkan, kata literatur berarti “kenalan dengan huruf” (seperti dalam “seni dan surat”). Klasifikasi dua utama sastra puisi dan prosa. [6]
Maka literature di sini dapatlah diartikan sebagai suatu karya berupa tulisan baik yang dipublikasikan atau tidak yang menjadi rujukan dalam sejarah. Literatur sejarah ini seringkali berserakan tanpa terurus, akan tetapi akan mempunyai nilai sejarah pada masa yang akan datang, seperti yang dilakukan para sejarawan Barat yang melakukan penimbunan naskah-naskah yang tersimpan dengan baik beratus-ratus tahun lamanya, yang kemudian hari menjadi barang berharga dalam proses sejarah.
Dalam Wikipedia kata literature terkadang dapat dibedakan dari kelas populer dan penulisan singkat. Istilah seperti “fiksi sastra” dan “merit sastra” digunakan untuk membedakan karya-karya individu. ” “Literature” is sometimes differentiated from popular and ephemeral classes of writing. Terms such as “literary fiction” and “literary merit” are used to distinguish individual works as art-literature rather than vernacular writing, and some critics exclude works from being “literary”, for example, on grounds of weak or faulty style, use of slang, poor characterization and shallow or contrived construction. Others exclude all genres such as romance, crime and mystery, science fiction, horror and fantasy. Pop lyrics, which are not technically a written medium at all, have also been drawn into this controversy.[7]
Literature dalam mengajar seringkali dilakukan guru sebagai penjejalan materi pelajaran kepada peserta didik untuk belajar dengan alasan peserta didik sedikit memiliki keahlian dalam bidang itu. Sebagaimana ditulis Shahida Sajjad dalam abstraksi tulisanya, ” The literature on teaching is crammed full of well researched ways that teachers can present content and skills that will enhance the opportunities for students to learn. It is equally filled with suggestions of what not to do in the classroom. However, there is no rule book on which teaching methods match up best to which skills and/or content that is being taught. Students often have little expertise in knowing if the method selected by an individual instructor was the best teaching method or just “a method” or simply the method with which the teacher was most comfortable.[8]
Sedangkan bahan ajar menurut Ali Mudlafir adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/ suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Bahan ajar ini berisi materi pembelajaran (instructional materials) yang terdiri dari pengetahuan, keterampilan, sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan.[9]
Bahan ajar dalam penjabaran dan penyesuaian kompetensi agar tidak menyebar kemana-mana, maka harus memenuhi kriteria sahih ( valid), yaitu telah teruji kebenaran dan kesahihannya, tingkat kepentingan diperlukan siswa, kebermaknaa baik akademis maupun non akademis, layak dipelajari dari tingkat kesulitannya, dan menarik minat serta dapat memotivasi siswa untuk mempelajari lebih lanjut.[10]
Materi bahan ajar dapat berupa jenis prosedur berkenaan dengan langkah-langkah secara sistematis, dan berbentuk materi sikap ( afektif ) yaitu materi yang berkenaan dengan sikap dan nilai seperti kejujuran, kasing sayang, tolong menolong, semangat dan minat belajar dan semangat bekerja. Materi pembelajaran jika dilihat dari aspek guru merupakan materi pembelajaran yang harus diajarkan dan disampaikan dalam kegiatan pembelajaran, sedangkan apabila dilihat dari siswa, bahan ajar merupakan sesuatu yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai dengan menggunakan instrument penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian belajar.
Bahan ajar yang baik menurut Direktorat Jenderal Manejemen Pendidikan Dasar dan Menengah ( 2006) yang ditulis, Ali Mudlafir adalah memiliki prinsip relevansi ( keterkaitan) dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar, prinsip konsistensi ( keajegan), dan prinsip kecukupan yakni cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan.[11]
Bahan ajar yang baik menurut Mudlafir memiliki ciri-ciri: menimbulkan minat baca, ditulis dan dirancang untuk siswa, menjelaskan tujuan instruksional, disusun berdasarkan pola belajar yang fleksibel, struktur berdasarkan kebutuhan siswa dan kompetensi akhir yang akan dicapai, memberi kesempatan untuk berlatih, mengakomodasi kesulitan, memberikan rangkuman, gaya penulisan komunikatif, kepadatan materi berdasarkan kebutuhan siswa, dikemas sebagai proses instruksional, mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari siswa dan menjelaskan cara mempelajari bahan ajar.[12]
Sedangkan bentuk-bentuk bahan ajar dapat berupa sumber yang berasal dari buku teks, laporan hasil penelitian, jurnal, pakar bidang studi, professional, buku kulikulum, penerbitan berkala, internet, media audiovisual dan lingkungan sosial.[13]
Diantara buku-buku PAI yang inklud di dalamnya materi sejarah Kebudayaan Islam diantaranya:
Langkah-langkah untuk menentukan pemetaan bahan ajar sebagai berikut:
1) Menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
2) Menentukan materi pokok. Materi pokok ini ada yang berjenis aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Aspek kognitif mencakup materi jenis fakta, pengertian , definisi, hakikat, inti isi, dalil, rumus, postulat adagium, paradigm, teorema, dan procedural sistematis.[14]
Sebuah produk literatur memberikan kontribusi sangat penting bagi pertumbuhan tradisi intelektual dan penulisan sejarah (historiografi) Islam. Misalnya kamus biografi merupakan bahan sumber (source materials) sejarah yang sangat kaya informasi tentang figur-figur berpengaruh dari pelbagai lapangan atau disiplin kehidupan masyarakat, baik politik, pengetahuan (intelektual) maupun kultural.[15]
Menurut Jaih Mubarok, buku-buku sejarah kebudayaan-peradaban Islam seringkali diisi dengan kecenderungan sejarah yang bersifat istana centris yang menggambarkan proses pergantian kepemimpinan ( suksesi), penaklukan, saling menjatuhkan antara pemimpin dan kurang memperhatikan temuan-temuan karya-karya besar yang dihasilkan ulama sebagai kebudayaan yang maju.[16]
Adapun kebudayaan diartikan bersifat sosiologis di satu sisi dan antropologis di sisi lain. Istilah kebudayan (culture) pada dasarnya diartikan sebagai cara mengerjakan tanah, memelihara tumbuh-tumbuhan, diartikan pula melatih jiwa dan raga manusia. Dalam latihan ini memerlukan proses dan mengembangkan cipta, karsa, dan rasa manusia. Maka culture adalah civilization dalam arti perkembangan jiwa.
Sejarah peradaban Islam diartikan sebagai perkembangan atau kemajuan kebudayaan Islam dalam perspektif sejarahnya, dan peradaban Islam mempunyai berbagai macam pengertian lain diantaranya , Pertama : sejarah peradaban Islam merupakan kemajuan dan tingkat kecerdasan akal yang dihasilkan dalam satu periode kekuasaan Islam mulai dari periode nabi Muhammad Saw sampai perkembangan kekuasaan Islam sekarang. Kedua : sejarah peradaban Islam merupakan hasil-hasil yang dicapai oleh ummat Islam dalam lapangan kesustraan, ilmu pengetahuan dan kesenian. Ketiga : sejarah peradaban Islam merupakan kemajuan politik atau kekuasaan Islam yang berperan melindungi pandangan hidup Islam terutama dalam hubungannya dengan ibadah ibadah, penggunaan bahasa, dan kebiasaan hidup bermasyarakat.
Sedangkan tujuan mempelajari literatur adalah untuk mendapatkan “peta” tentang domain penelitian yang akan dilaksanakan. Peta domain ini sebenarnya berwujud pengetahuan tentang riset-riset yang dilakukan oleh peneliti lain dalam area penelitian kita. Pengetahuan ini tidak hanya berupa pemahaman terhadap riset-riset tersebut, tetapi juga saling kait yang terbentuk antar riset-riset tadi. Seperti diketahui, sebuah penelitian tidak muncul begitu saja, tetapi ia selalu mencoba menyelesaikan atau menjawab persoalan yang ditinggalkan penelitian sebelumnya. Keterkaitan inilah, yang jika dirangkai secara menyeluruh, menyusun draf yang membentuk “peta” domain penelitian kita.[17]
B. Materi Bahan Ajar Sejarah Kebudayaan Islam di SMP
Materi bahan ajar Sejarah Kebudayaan Islam di SMP dapatlah dilihat dari standar isi yang tercantum dalam KTSP 2006, berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sebagai berikut:[18]
|
No. |
Materi Ajar SKI berdasarkan kompetensi Dasar |
Kelas |
Semester |
|
1 |
8. Memahami sejarah Nabi Muhammad Saw: 8.1. Menjelaskan sejarah Nabi Muhammad Saw. 8.2. Menjelaskan misi Nabi Muhammad Saw. untuk semua manusia dan bangsa. |
VII |
Ganjil |
|
2 |
14. Memahami sejarah Nabi Muhammad Saw 14.1. Menjelaskan misi Nabi Muhammad Saw. Untuk menyempurnakan akhlak, membangun manusia mulia dan bermanfaat. 14.2. Menjelaskan misi Nabi Muhammad Saw. sebagai rahmat bagi alam semesta, pembawa kedamaian, kesejahteraan, dan kemajuan masyarakat. 14.3. Meneladani perjuangan Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat dalam menghadapi masyarakat Makkah. |
VII |
Genap |
|
3 |
9. Memahami sejarah Nabi Muhammad Saw 9.1.Menceritakan sejarah Nabi Muhammad Saw. dalam membangun masyarakat melalui kegiatan ekonomi dan perdagangan. 9.2.Meneladani perjuangan Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat di Madinah. |
VIII |
Ganjil |
|
4 |
15. Memahami sejarah Dakwah Islam 15.1. Menceritakan sejarah pertumbuhan ilmu pengetahuan Islam sampai masa Abbasiyah. 15.2.Menyebutkan tokoh ilmuwan Muslim dan perannya sampai masa daulah Abbasiyah. |
VIII |
Genap |
|
5 |
7. Memahami sejarah perkembangan Islam di Nusantara 7.1.Menceritakan sejarah masuknya Islam di Nusantara melalui perdagangan, sosial, dan pengajaran. 7.2.Menceritakan beberapa kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. |
IX |
Ganjil |
|
6 |
13. Memahami sejarah tradisi Islam Nusantara 13.1.Menceritakan seni budaya lokal sebagai bagian dari tradisi Islam. 13.2.Memberikan apresiasi terhadap tradisi dan upacara adat kesukuan Nusantara. |
IX |
Genap |
Dengan melihat standar kompetensi SKI pada SMP yang dipelajari 1 pokok bahasan dalam setiap semester, maka pembelajaran sejarah sangat minim apabila dilihat dari subject matter-nya, akan tetapi sangat luas jika dilihat dari kebermaknaan yang terkandung di dalamnya. Seperti pembahasan sejarah Nabi Muhammad Saw yang dipelajari di kelas VII semester 1 dan 2 dan di kelas VIII semester 1 akan mempunyai makna jika dihubungkan dengan materi iman kepada rasul-rasul Allah yang dibahas di kelas VIII semester 2,begitu pula jika dihubungkan dengan materi akhlak yang selalu mengacu kepada akhlak Rasulullah. Begitu pula materi SKI tentang sejarah Dakwah Islam di kelas VIII semester 2 ada hubungan secara terintegrasi dengan materi akhlak hadits kewajiban menuntut ilmu yang dipelajari di kelas IX semester 1. Sedangkan materi SKI kelas IX yang berisi sejarah Islam di Nusantara akan berkorelasi dengan pelajaran IPS kelas VII.[19]
C. Problematika Literatur sejarah Kebudayaan Islam pada SMP
Pembelajaran sejarah saat ini pada umumnya menghadapi banyak persoalan. Persoalan itu mencakup lemahnya penggunaan teori, miskinnya imajinasi, acuan buku teks dan kurikulum yang state oriented, serta kecenderungan untuk tidak memperhatikan fenomena globalisasi berikut latar belakang historisnya. Dalam proses pembelajaran sejarah, masih banyak guru menggunakan paradigma konvensional, yaitu paradigma ‘guru menjelaskan murid mendengarkan’.
Metode pembelajaran sejarah semacam ini telah menjadikan pelajaran sejarah membosankan. Ia kemudian tidak memberikan sentuhan emosional karena siswa merasa tidak terlibat aktif di dalam proses pembelajarannya. Sementara paradigma ‘siswa aktif mengkonstruksi makna guru membantu’ merupakan dua paradigma dalam proses belajar-mengajar sejarah yang sangat berbeda satu sama lain. Paradigma ini dianggap sulit diterapkan dan membingungkan guru serta siswa. Di samping itu, metode pembelajaran yang kaku, akan berakibat buruk untuk jangka waktu yang panjang dan berpotensi memunculkan generasi yang mengalami “amnesia (lupa atau melupakan sejarah” bangsa sendiri.
Agar pembelajaran sejarah berhasil baik, metode yang dipergunakan harus bisa mengkonstruk “ingatan historis” siswa yang menjadikan sejarah sebagai ketertarikan dan minat untuk memaknainya, serta mampu menggali lebih jauh lagi. Ingatan historis semata tidak akan bertahan lama. Supaya ingatan historis bertahan lama, perlu disertai “ingatan emosional”.[20]
Ingatan jenis ini adalah ingatan yang terbentuk dengan melibatkan emosi hingga bisa menumbuhkan kesadaran dalam diri siswa untuk menggali lebih jauh dan memaknai berbagai peristiwa sejarah. Proses pembelajaran kemudian tak hanya berhenti pada penghafalan saja, siswa bisa aktif dalam komunikasi dua arah dengan guru untuk mengutarakan pendapatnya mengenai obyek sejarah yang tengah dipelajari karena sejak awal ia telah merasa menjadi bagian dari proses pembelajaran yang penuh dengan makna. Agar “ingatan emosional” muncul dan bertahan lama, maka paradigma pembelajaran sejarah harus diubah.
Mengubah paradigma yang dianut oleh seorang guru dari paradigma konvensional ke paradigma konstruktif, bukan sesuatu hal yang mudah. Hal ini disebabkan karena kebanyakan guru sudah terbiasa dengan paradigm konvensional, dan mereka sendiripun pada waktu masih menjadi siswa sudah terbiasa dengan paradigma tersebut. Sungguh-sungguh diperlukan kemauan dan tekad yang kuat untuk bisa mengubah paradigma tersebut secara nyata.
Proses jatuh bangun dari beberapa guru yang berusaha sungguh-sungguh untuk menggunakan paradigma konstruktivis, sekalipun mereka sendiri sebelumnya sudah sangat terbiasa dengan paradigma konvensional. Dengan usaha yang keras, usaha para guru tersebut akhirnya berhasil mengubah paradigma yang mereka gunakan, dan perubahan paradigma tersebut memberikan manfaat yang positif bagi para siswa mereka, karena dengan penggunaan paradigma yang kedua tersebut, para siswa menjadi terbiasa mengeksplorasi secara aktif dan konstruktif konsep-konsep, prinsip-prinsip, prosedur-prosedur, dan soal-soal sejarah (termasuk soal-soal yang non rutin), sehingga mereka merasa bahwa sejarah adalah ‘milik’ mereka,karena liku-likunya telah biasa mereka telusuri. Lebih jauh, hal tersebut menambah rasa percaya diri mereka dalam menghadapi materi-materi sejarah yang baru dan soal-soal yang sebelumnya belum pernah mereka jumpai. Hal ini juga sangat membantu mereka pada waktu mereka menjumpai masalah-masalah dalam kehidupan mereka sehari-sehari, sehingga secara umum, kemampuan mereka dalam memecahkan masalah kesejarahan meningkat. Kemampuan memecahkan masalah ini akan sangat berguna pula dalam bidang-bidang di mana mereka nanti akan berkarya.
Belajar sejarah berarti peserta didik mampu berpikir kritis dan mampu mengkaji setiap perubahan di lingkungannya, serta memiliki kesadaran akan perubahan dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap peristiwa sejarah. Pembelajaran sejarah yang baik adalah pembelajaran yang mampu menumbuhkan kemampuan siswa melakukan konstruksi kondisi masa sekarang dengan mengkaitkan atau melihat masa masa lalu yang menjadi basis topic pembelajaran sejarah. Kemampuan melakukan konstruksi ini harus dikemukakan secara kuat agar pembelajaran tidak terjerumus dalam pembelajaran yang bersifat konservatif. Kontekstualitas sejarah harus kuat mengemuka dan berbasis pada pengalaman pribadi para siswa. Apalagi sejarah tidak akan terlepas dari konsep waktu, kontinuitas dan perubahan.
Sepanjang tiga tahun belajar baik di tingkat SMP maupun SMA, anak-anak dijejali paksa dengan materi tersebut. Nyaris mereka dibuat tidak bernafas. Padahal alur materi tersebut sejak di SD, SMP bahkan hingga SMA masih sama dan diulang-ulang. Setelah paling tidak selama 6 tahun dijejali materi tersebut, ternyata banyak lulusan tetap tidak melek sejarah bangsanya sendiri alias ahistoris. Kecenderungan metode penghafalan dalam pembelajaran sejarah terbukti menyebabkan siswa apatis dan tidak tertarik terhadap ilmu sejarah. Pelajaran tersebut menjadi sangat membosankan. Bila ini terus terjadi, waktu yang sangat terbatas tersebut hanyalah terbuang sia-sia. Maka, ada baiknya para guru sejarah mengevaluasi cara pembelajaran tersebut.
Sejarah berfungsi sebagai konseling dan membangun karakter, jika pembelajaran sejarah sedikit berbeda dengan kecenderungan umum. Siswa diajak tahu bagaimana memaknai peristiwa masa lalu, menengok ulang peristiwa tersebut, kemudian menilai dan mengambil hikmahnya. Bila pendekatan ini yang diutamakan, maka materi sejarah haruslah mampu mereka kenali dari posisi mereka berada. Materi sejarah tersebut harusnya menyentuh hidup mereka secara langsung. Dan bila ini tercapai, barulah menarik mundur secara lebih jauh.
D. Problematika bahan ajar kebudayaan Islam pada SMP
Langkah awal untuk merevitalisasi metode pembelajaran adalah berusaha memahami bagaimana seharusnya mata pelajaran sejarah diajarkan. Setidaknya, ada lima unsur pembelajaran sejarah yang harus diimplementasikan:
(1) variatif; pembelajaran apapun yang dilakukan jika monoton pasti membuat siswa jenuh, bosan, dan akhirnya kurang berminat. Hal ini terjadi dalam pembelajaran sejarah, karena terkonsentrasi pada penerapan metode ceramah, sehingga kesan yang muncul adalah mata pelajaran sejarah identik dengan metode ceramah, bahkan sebagian besar guru sejarah berasumsi bahwa materi sejarah dapat dipindahkan secara utuh dari kepala guru ke kepala peserta didik dengan metode pembelajaran yang sama.
(2) dari fakta ke analisis; pembelajaran sejarah di berbagai sekolah ternyata lebih menekankan pada fakta sejarah dan hafalan fakta seperti pelaku, tahun kejadian, dan tempat kejadian. Idealnya, pembelajaran sejarah bukan sekadar transfer of knowledge tetapi juga transfer of value, bukan sekadar mengajarkan siswa menjadi cerdas tetapi juga berakhlak mulia. Karena itu, pembelajaran sejarah bertujuan untuk mengembangkan keilmuan sekaligus berfungsi didaktis, bahwa maksud pengajaran sejarah adalah agar generasi muda yang berikut dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman nenek moyangnya.
Menurut Mestika Zed siswa tidak cukup dijejali kesibukan kognitif menghafal pengetahuan lewat fakta-fakta yang sudah mati di masa lalu, sebagaimana banyak terjadi selama ini. [21] . Secara tegas Soedjatmoko (1976:15) menggariskan bahwa harus dibuang cara-cara mengajarkan sejarah yang mengutamakan fakta sejarah. Pandangan ini sangat penting diimplementasikan dalam pengajaran sejarah agar tidak terjadi apa yang dikhawatirkan oleh Winamo Surachmad (1978:9), yaitu siswa tidak berhasil tiba pada taraf kemampuan untuk melihat dan berpikir secara historis, tetapi pengetahuan sejarah mereka berhenti dan terbelenggu oleh sekumpulan data, fakta, dan nama-nama orang. Karena itu, pembelajaran sejarah tidak boleh berhenti pada tingkat fakta, tetapi harus sampai pada domain analisis.
(3) terbuka dan dialogis; praktek pembelajaran sejarah yang tertutup dan monoton berpotensi membawa siswa dalam suasana kelas yang kaku, sehingga memunculkan sikap kurang antusias. Karena itu, guru sejarah wajib mendesain pembelajaran yang bersifat terbuka dan dialogis. Keterbukaan dan dialogis mengharuskan guru sejarah untuk tidak menganggap dirinya sebagai satu-satunya sumber kebenaran di kelas, sebab paradigma teacher centered yang cenderung membuat suasana kelas menjadi tertutup dan tidak mampu menumbuhkan kreativitas siswa sudah harus ditinggalkan kemudian beralih ke student centered.
(4) divergen; sejalan dengan pembelajaran sejarah yang menekankan pada analisis dan dialogis, penerapan prinsip divergen sangat penting agar pembelajaran sejarah terhindar dari kecenderungan yang hanya menyampaikan fakta sejarah. Pembelajaran sejarah bukan hanya 20 + 20 = 40, melainkan juga … (+, x, -, dan …= 40. Artinya, pembelajaran sejarah menghendaki pemecahan suatu masalah dengan memberi peluang kepada siswa untuk menganalisis dan melahirkan banyak gagasan. Dengan demikian tidak cukup sekadar guru menanyakan: “Siapa tokoh proklamator Indonesia?” melainkan harus dikembangkan menjadi: “Mengapa Soekarno – Hatta yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia?.”
(5) progresif; pembelajaran sejarah perlu didasarkan pada prinsip progresif. perspektif baru pendidikan sejarah harus progresif dan berwawasan tegas ke masa depan. Apabila sejarah hendak berfungsi sebagai pendidikan, maka harus dapat memberikan solusi cerdas dan relevan dengan situasi sosial dewasa ini. Penekanan prinsip ini merupakan pengewejantahan mata pelajaran sejarah dengan watak tridimensional.
Banyak model mengajar yang telah dikembangkan oleh para ahli. Pengembangan model tersebut didasarkan pada konsep teori yang selama ini dikembangkan. Mengingat banyaknya model mengajar yang telah dikembangkan, Bruce Joyce et.al (2000) mengelompokkan menjadi empat rumpun yaitu: model pemrosesan informasi (processing information model), model pribadi (personal model), model interaksi sosial (social model), dan model perilaku (behavior model).[22]
Model mengajar pemrosesan informasi terdiri dari model mengajar yang menjelaskan bagaimana cara individu memberi respon terhadap stimulus yang datang dari lingkungan. Dalam prosesnya ditempuh langkah-langkah seperti mengorganisasi data, memformulasikan masalah, membangun konsep dan rencana pemecahan masalah, serta penggunaan simbol verbal dan non verbal. Banyak model mengajar yang tergolong pada kelompok model ini, yaitu: Inductive thinking (classification-oriented), Concept attainment, Scientific inquiry, Inquiry Tarining.
Model pribadi berorientasi pada perkembangan diri individu. Pelaksanannya lebih menekankan pada upaya membantu individu dalam membentuk dan mengorganisasikan realita yang unik serta lebih memperhatikan kehidupan emosional peserta didik. Upaya pengajaran lebih diarahkan pada menolong peserta didik untuk dapat mengembangkan kemampuannya dalam mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Yang tergolong pada kelompok model mengajar ini adalah: Nondirective teaching dan Enhancing self esteem.
Model Interaksi Sosial mengutamakan pada hubungan individu dengan masyarakat atau orang lain, dan memusatkan perhatiannya pada proses dimana realita yang ada dipandang sebagai negosiasi sosial. Prioritas utama diletakkan pada kecakapan individu dalam berhubungan dengan orang lain. Yang tergolong pada kelompok model mengajar diantaranya: Partner in learning, Structured Inquiry, Group Investigation, Role Playing.
Model mengajar perilaku dibangun atas dasar teori yang umum, yaitu kerangka teori perilaku. Salah satu cirinya adalah kecenderungan memecahkan tugas belajar kepada sejumlah perilaku yang kecil-kecil dan berurutan serta dapat terukur. Belajar dipandang sebagai sesuatu yang tidak menyeluruh, tetapi diuraikan dalam langkah-langkah yang konkret dan dapat diamati. Mengajar berarti mengusahakan terjadinya perbuatan dalam perilaku siswa, dan perubahan tersebut haruslah teramati. Termasuk dalam model perilaku ini adalah: Mastery learning, Direct Instruction, Simulation, Social Learning, Programmed Schedule.
Pengajar sejarah yang baik adalah mereka yang mampu merangsang dan mengembangkan daya imajinasi peserta didik sedemikian rupa, sehingga cerita sejarah yang disajikan menantang rasa ingin tahu; (2) buku-buku sejarah dan media pembelajaran sejarah yang masih terbatas; (3) peserta didik yang kurang memberikan respons positif terhadap pembelajaran sejarah; dan (4) metode pembelajaran sejarah pada umumnya kurang menantang daya intelektual peserta didik.[23]
E. Solusi pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam pada SMP
Inovasi pembelajaran sejarah Kebudayaan Islam dapat menggunakan seni pembelajaran dengan beberapa cara berikut:
Pertama, mengembangkan model pembelajaran yang memasukkan kemampuan guru dengan seni dalam mengajar di depan kelas. Hal ini tentu yang paling mudah dilakukan guru. Kemampuan menguasai kelas dalam arti luas merupakan salah satu bukti bahwa guru tersebut mempunyai jiwa seni yang tinggi. Identifikasi saja bagaimana kita menyukai seorang guru atau dosen, pasti yang utama karena gaya mereka menyampaikan atau berinteraksi dalam pembelajaran.
Kedua, menggali bahan dan minat siswa dalam hal seni untuk strategi pembelajaran sejarah. Setia manusia pada hakekatnya mempunyai kecerdasan emosional (EQ). Pembelajaran sejarah dapat mewujudkan ekspresi siswa melalui kemampuan mereka dalam seni. Peserta didik sifatnya heterogen dan unik. Pengajar perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk beraktualisasi dalam hal seni untuk pembelajaran sejarah. Contohnya dengan model-model pembelajaran role playing, membuat karya sastra dan seni sejarah (puisi, cerpen, novel, kartun, komik, dan sebagainya). Ada yang khawatir bahwa cara ini akan menjauhkan sejarah dari disiplin ilmu. Sebenarnya itu bukan alasan yang mendasar. Guna ekstrinsik sejarah sebagai alat pendidikan moral dan seni seperti dikatakan Kuntowijoyo justru mendukung model ini.
Ketiga, penggunaan media karya seni dalam pembelajaran sejarah. Diakui bahwa hal ini masih minim dilakukan para guru. Pembelajaran kita masih kering dengan hal-hal yang berbau media. Proses pembelajaran masih terfokus pada interaksi verbalis yang mengedepankan definisi dan kata. Padahal peran media dalam proses pembelajaran sangat besar. Alasan minimnya para guru dalam menggunakan media sangat klasik, yakni minimnya fasilitas yang dimiliki sekolah. Sebenarnya hal ini dapat disiasati dengan upaya memanfaatkan fasilitas yang dimiliki hampir setiap keluarga. VCD sudah bukan barang asing di masyarakat. Tetapi pengajaran sejarah menggunakan fasilitas ini masih dapat dihitung dengan jari. Memang ketika membuat media ini membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Tetapi bukankah penggunaan dan manfaatnya akan menekan waktu dan biaya berlipat-lipat?. Bahan ajar topik tersebut dapat dibuat dengan program macro flash. Guru tidak perlu menjelaskan tentang topik tersebut secara panjang lebar. Ia dapat menyajikan bahan ajar lengkap dengan suara, gambar, tulisan yang divisualisasikan. Siswa dapat mempelajari secara berkelompok maupun individu, di rumah atau di sekolah. Mereka dapat menggunakan komputer dan televisi yang relatif telah memasyarakat.
Tiga cara yang disebutkan di atas dapat dikembangkan secara lebih luas menyesuaikan kemampuan dan sarana yang tersedia. Penggunaan electronic learning dapat dikembangkan dalam bentuk web site yang bisa diakses siswa di manapun dan kapanpun. Bukankah hasil pembatan media yang telah dilakukan guru telah memperkaya bahan ajar guru seluruh Indonesia, bahkan dunia? Coba dihitung seandainya ada 1000 guru yang mebuat bahan ajar dengan media! Semuanya di-upload di internet. Atau setidaknya digandakan dalam VCD. Kita yakin, bahwa pembelajaran sejarah yang mengedepankan oral atau ceramah di kelas akan berkurang drastis. Guru tinggal mengajak tanya jawab dan diskusi dengan siswa di kelas. Komunikasi antar gurupun akan menjadi intensif. Guru yang ada di Papua memberikan contoh objek sejarah di Papua, demikian halnya yang di Aceh atau Yogya. Ini benar-benar akan menjadikan pembelajaran sejarah penuh makna dan variatif. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan bahwa guru kurang waktu dalam mengajar sejarah. Hal ini dapat dilakukan kalau guru mempunyai paradigma bahwa pusat pembelajaran adalah siswa, bukan guru.
Tuntutan terhadap pelayanan pembelajaran yang ditunjang oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mendorong terjadinya pergeseran konsep pembelajaran. Model mengajar bergeser ke arah model belajar. Asumsi pergeseran tersebut, bertolak dari peserta didik yang diharapkan dapat meningkatkan upaya dirinya memperkaya pengetahuan, sikap dan keterampilan. Guru di sekolah bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, akan tetapi bagian integral dalam sistem pembelajaran. Berdasarkan teori belajar yang ada, bermuara pada tiga model utama, yaitu: a) Behaviroisme, b) Kognitivisme, dan c) Konstruktivisme.[24]
John Dewey menguatkan teori konstruktivisme ini dengan mengatakan bahwa pendidik yang cakap harus melaksanakan pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau membina pengalaman secara berkesinambungan. Beliau juga menekankan kepentingan keikutsertakan peserta didik di dalam setiap aktivitas pengajaran dan pembelajaran.
Ditinjau persepektif epistemologi yang disarankan dalam konstruktivisme, maka fungsi guru akan berubah. Perubahan akan berlaku dalam teknik pengajaran dan pembelajaran, penilaian, penelitian dan cara melaksanakan kurikulum. Sebagai contoh, perspektif ini akan mengubah kaidah pengajaran dan pembelajaran yang menumpu kepada kemampuan peserta didik mencontoh dengan tepat apa saja yang disampaikan oleh guru, kepada kaidah pengajaran dan pembelajaran yang menumpu kepada kemampuan peserta didik dalam membina skema pengkonsepan berdasarkan pengalaman yang aktif. Ia juga akan mengubah tumpuan penelitian dari pembinaan model berdasarkan kaca mata guru kepada pembelajaran sesuatu konsep ditinjau dari kaca mata peserta didik.
Pembelajaran konstruktivisme berdasarkan pemahaman Piaget, beranggapan bahwa: 1) gambaran mental seseorang dihasilkan pada saat berinteraksi dengan lingkungannya, 2) pengetahuan yang diterima oleh seseorang merupakan proses pembinaan diri dan pemaknaan, bukan internalisasi makna dari luar.
Pembelajaran menurut konstruktivisme personal, memiliki beberapa anggapan (postulat), yaitu: 1) Set mental (idea) yang dimiliki peserta didik mempengaruhi panca indera dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap proses pembentukan pengetahuan, 2) Input yang diterima peserta didik tidak memiliki makna yang tetap, 3) peserta didik menyimpan input yang diterima tersebut ke dalam memorinya, 4) input yang tersimpan dalam memori tersebut dapat digunakan lagi untuk menguji input lain yang baru diterima, 5) peserta didik memiliki tanggung jawab terhadap apa yang menjadi keputusannya.
Konstruktivisme sosial beranggapan bahwa pengetahuan yang dibentuk oleh peserta didik, merupakan hasil interaksinya dengan lingkungan sosial disekitarnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa: a) pengetahuan dibina oleh manusia, 2) pembinaan pengetahuan bersifat sosial dan personal, 3) pembina pengetahuan personal adalah perantara sosial dan pembina pengetahuan sosial adalah perantara personal, 4) pembinaan pengetahuan sosial merupakan hasil interaksi sosial, dan 5) interaksi sosial dengan yang lain adalah sebagian dari personal, pembinaan sosial, dan pembinaan pengetahuan bawaan.
Implikasi konstrukstivisme terhadap pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam adalah: (1) Pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik, jika peserta didik tidak diberi kesempatan menyelesaikan masalah dengan tingkat pengetahuan yang dimilikinya; (2) Pada akhir proses pembelajaran, peserta didik memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda sesuai dengan kemampuannya; (3) Untuk memutuskan (menilai) keputusannya, peserta didik harus bekerja sama dengan peserta didik yang lain; (4) Guru harus mengakui bahwa peserta didik membentuk dan menstruktur pengetahuannya berdasarkan modalitas belajar yang dimilikinya.
Lawatan Sejarah adalah suatu kegiatan perjalanan mengunjungi situs bersejarah (a trip to historical sites). Jika mencermati uraian di muka, khususnya tentang pengembangan model pembelajaran berbasis teori belajar yang berkembang, maka Lawatan Sejarah dapat dikembangkan sebagai model pembelajaran sejarah baik dengan basis teori behavioristik, koqnitif, maupun konstruktivistik. Tinggal bagaimana guru dan/atau murid mengemasnya. Tentu saja, kalau kita mengikuti perkembangan baru. Terutama paradigma baru yang dijadikan rujukan yang mendasari penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, yang dituangkan baik pada UU tentang Sisdiknas maupun Peraturan Menteri tentang Standar Kompetensi dan Implementasinya, maka sangat jelaslah bahwa paradigma pembelajaran kontruktivisme menjadi pilihan utamanya.
Mengamati perkembangan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, gejala diterimanya paradigma konstruktivisme dan tren pembelajaran quantum sungguh menggembirakan. Hal ini terbukti dari mulai maraknya kegiatan-kegiatan pendidikan baik formal (sekolah) maupun non formal (pelatihan, workshop, atau bahkan seminar lokakarya) yang dikemas dalam bentuk Edutainment.
Kita sudah lama mengenal istilah learning by doing, maka learning by experiencing adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan “Edutainment“. Edutainment yaitu sebuah konsep yang saat ini sedang dikembangkan oleh berbagai lembaga pendidikan formal (sekolah) maupun non formal (lembaga-lembaga yang menyelenggarakan pelatihan, workshop, atau seminar). Bahkan dinegara maju, edutainment telah ditopang oleh teknologi yang maju, sehingga sebutannya menjadi edutainment and technotainment (Edutechnotainment: pen). Progam ini diakui telah membuka sumber daya baru, perkakas dan strategi untuk mengangkat capaian siswa ke tingkat yang lebih tinggi (McKenzie, 2000).
Edutainment adalah akronim dari “education and entertainment“. Dapat diartikan sebagai progam pendidikan atau pembelajaran yang dikemas dalam konsep hiburan sedemikian rupa, sehingga tiap-tiap peserta hampir tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya sendang diajak untuk belajar atau untuk memahami nilai-nilai (value), sehingga kegiatan tersebut memiliki nuansa yang berbeda dibandingkan dengan pembelajaran biasa.
Edutainment dapat digunakan untuk mengemas model pembelajaran melalui lawatan sejarah. Aplikasinya tergantung dari kebutuhan dan impact yang diharapkan oleh peserta. Lawatan sejarah yang dikemas dalam Edutainment akan menjadi lebih menarik bagi peserta. Sebenarnya lawatan sejarah ini hanyalah kendaraan saja. Yang terpenting adalah muatannya, baik itu internal maupun external issues.
Strategi inkuiri sosial merupakan perkembangan pemikiran Hilda Taba dan T Richard Suchman, yang kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Byron Massialas dan Benyamin Cox sebagai strategi relative baru dalam pembelajaran Studi Sosial maupun Ilmu-ilmu Sosial. Strategi Inkuiri Sosial pada hakekatnya sebagai suatu strategi pengembangan kemampuan siswa untuk penyelidikan dan merefleksikan sifat kehidupan social terutama sebagai latihan hidup langsung di masyarakat. Pendekatan strategi ini bertolak dari suatu keyakinan bahwa dalam rangka pengembangan kemampuan siswa secara independen, penyelidikan masalah- masalah social sangat diperlukan sebagai partisipasi aktif warga negara/ warga masyarakat.
Sedangkan permasalahan kekurangan jam mengajar Pendidikan agama Islam yang hanya 2 jam pelajaran seminggu di SMP, SMA/SMK dan 3 jam pelajaran di SD, maka pembelajaran SKI sebagai salah satu materi dalam pendidikan agama Islam harus dilakukan pembelajaran dengan efektif dan efisien, seperti yang ditulis Prof.Dr. H. Abudin Nata, M.A, sebagai berikut:
a) Mengubah orientasi dan focus pengajaran agama yang semula bersifat subject matter oriented, yang semula berpusat pada pemberian pengetahuan agama dalam pengertian memahami dan menghapal menjadi pengajaran agama yang berorientasi kepada pengalaman dan pembentukan sikap keagamaan.
b) Menambah jam pelajaran yang diberikan di luar jam pelajaran yang ditetapkan kurikulum dengan cara membuat ektrs kulrikuler sesuai dengan kebutuhan dengan penekanan pengalaman agama dalam kehidupan.
c) Meningkatkan perhatian,kasih sayang, bimbingan dan pengawasan orang tuanya di rumah.
d) Melaksanakan tradisi keIslaman yang didasrkan pada al-Quran dan al-Sunnah yang disertai penghayatan akan makna pesan moral yang terkandung di dalamnya.
e) Pembinaan sikap keagamaan dengan berbagai media yang tersedia seperti mass media, radio, Koran, surat kabar, televisi dan lain sebagainya.[25]
III. PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah pemaparan makalah problematika literature dan bahan ajar Sejarah Kebudayaan Islam yang terjadi di SMP, pemakalah menyimpulkan sebagai berikut:
1. Literatur pembelajaran sejarah kebudayaan Islam dapat berupa karya tulis baik yang dipublikasikan ataupun tidak sangat efektif untuk dijadikan bahan ajar pembelajaran di kelas. Literatur sejarah ini akan mempengaruhi ketersedian fakta sejarah dan memperkaya kebudayaan sejarah yang akan dipelajari oleh generasi berikutnya, dan literature sejarah harus dirawat dengan baik, karena akan mempunyai nilai sejarah secara monumental pada masa berikutnya.
2. Menyisati ketersediaan literature sejarah dalam pembelajaran SKI di SMP dapat dilakukan melalui pembelajaran yang variatif, menganalisis fakta sejarah, pembelajaran secara terbuka dan dialogis, divergen, dan progresif.
3. Bahan ajar SKI di SMP dalam pembelajaran sangat minim materi yang dipelajari satu sub materi dalam setiap semester, ini menunjukkan hanya enam materi sejarah yang dibahas selama di SMP dengan kisaran sejarah Nabi Muhammad Saw dari periode Mekkah dan Madinah, Sejarah dakwah dalam perkembangan Ilmu pengetahuan sampai Daulah Abbasiyah, dan sejarah Islam Nusantara yang menceritakan sejarah masuknya Islam ke Indonesia dan menceritakan kerajaan Islam yang lebih bersikap istana centris dan membahas seni dan tradisi Islam di Nusantara.
4. Solusi pembelajaran SKI di SMP yang mengalami kendala kekurangan jam pelajaran dalam setiap minggunya yaitu hanya 2 jam pelajaran perminggu effektif dapat disiasati mengubah orientasi pembelajaran dan focus pembelajaran kepada pembentukan sikap keagamaan dan pengalaman keagamaan bukan pemberian pengetahuan yang menjenuhkan baik dilakukan di dalam kelas, di luar kelas, ataupun kerja sama dengan masyarakat seperti orang tua, mass media yang tersedia.
DAFTAR PUSTAKA
Abudin Nata, Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008
Abu Ishaq al Syathibi, Al Muwafaqat fi Ushul al Syari’ah, Maktabah Tijariyah Kubra, Kairo, 2006 diterjemahlkan oleh. Mukhsin dkk diterbitkan oleh yayasan UIN Jakarta.
Ajid Thohir , Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam: Melacak Akar-akar Sosial, Politik dan Budaya Umat Islam , Jakarta: Rajawali Pers Penulis: Cetakan I: 2004
Azis, Abdul Rofik, Pendidikan Agama Islam Kelas VII SMP, Jakarta: Duta Karya Ilmu, 2007.
______________, Pendidikan Agama Islam Kelas VIII SMP, Jakarta: Duta Karya Ilmu, 2007.
______________, Pendidikan Agama Islam Kelas IX SMP, Jakarta: Duta Karya Ilmu, 2007.
Gibb, HAR., Islamic Biographical Literature dalam Histirians of the Middle East Eds, Bernard Lewis dan PM. Holt, London: Oxpord University Press, 1962
Hasan, Said Hamid, Kurikulum Sejarah dan Pendidikan Sejarah Lokal dalam Sejarah Lokal; Penulisan dan Pembelajaran Sejarah. Bandung: Salamina Press,2007
Joice, Bruce, et.All, Models of Teaching, New Jersey, Pearson Education, Terjemahan Model-model Pengajaran, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
Kartodirdjo, Sartono, Kebudayaan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994
Kartodirdjo, Sartono. Pembangunan Bangsa tentang Nasionalisme, Kesadaran dan Kebudayaan Nasional. Yogyakarta: Aditya Media, 1994
Kochhar, SK., Teaching Of History, Terjemah, Pembelajaran Sejarah, Jakarta, Grasindo, 2008
Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia, 1984
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru,1986
Lukito: Jurnal Ilmiah, http// mti.ugm.ac.id/-lukito/knowledge-sharing/menempuh-studi-s3/studi-literatur.
Latif, Abdul, Pendidikan Berbasis Nilai Kemasyarakatan, Bandung: Refika Aditama, 2009, Cet-2
Mubarok, Jaih, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Islamika, 2008
Mudlafir Ali, Aplikasi Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Bahan Ajar dalam Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2011
Notosusanto, Nugroho. Sejarah Demi Masa Kini. Jakarta: UI press, 1979
Sajjad, Shahida, Effective Teaching Methods at Higher Educational Level, Pakistan, University of Karachi.
Sedyawati, Edi. Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta: Rajawali Press, 2006
Sedyawati, Edi. “Tentang Sumberdaya Budaya”, Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan, Volume 1, Nomor 2, Desember 2006. Semarang: Fakultas Sastra Universitas Diponegoro.
Sedyawati, Edi. Keindonesiaan dalam Budaya: Buku 1 Kebutuhan Membangun Bangsa yang Kuat. Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2007
Sedyawati, Edi. Keindonesiaan dalam Budaya: Buku 2 Dialog Budaya Nasional dan Etnik, Peranan Industri Budaya dan Media Massa, Warisan Budaya dan Pelestarian Dinamis. Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2008
Setiadi, Elly M., Kama A. Hakam, dan Ridwan Effendi. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group,2007
Sevilla, Consuelo, et al,. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: UI Press, 1993
Smiers, Joost. Arts under Pressure: Memperjuangkan Keanekaragaman Budaya di Era Globalisasi. Terjemahan Umi Haryati. Yogyakarta: Insistpress, 2009
Sudrajat, Ahmad, Kurikulum dan Pembelajaran Dalam Paradigma Baru, Yogyakarta: Paramitra, 2011
Team Abdi Guru, Ayo Belajar Agama Islam untuk SMP Kelas IX, Jakarta, Erlangga, 2007.
Widja, G. Pengantar Ilmu Sejarah: Sejarah dalam Perspektif Pendidikan. Semarang: Satya Wacana,1988
herni-n10tangsel.blogspot.com/inovasi metode pembelajaran sejarah
[1] S.K. Kochhar, Teaching of History, terjemah, Pembelajaran Sejarah, Jakarta: 2008, Grasindo, h.26-36.
[2] Widja, G., Pengantar Ilmu Sejarah: Sejarah dalam Perspektif Pendidikan, Semarang, 1998, Satya Wacana, h. 49-50.
[3] Nugroho Notosusanto, Sejarah Demi Masa Kini. Jakarta: 1979 UI press., h.2-3
[4] Elly Setiadi, Kamal A. Hakam, dan Ridwan Effendi, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: 2007, Kencana Prenada Media Group, h.2.
[5] Lihat Standar Isi PAI SMP
[6] Wikipedia
[7] Wikipedia
[8] Shahida Sajjad , Effective teaching methods at higher education level ,assistant professor department of special education university of karachi. Pakistan, Abstraksi
[9] Ali Mudlafir, Aplikasi Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Bahan Ajar Dalam Pendidikan Agama Islam,Jakarta: 2011, Rajawali Pers, Cet-1, h.128.
[10] Ahmad Sudrajat, Kurikulum dan Pembelajaran dalam Paradigma Baru, Yogyakarta, Paramitra, 2011, h.34-35
[11] Ali Mudlafir, h.130
[12] Ali Mudlafir, h. 130-131.
[13] Ali Mudlafir, h. 138-140
[14] Ali Mudlafir, h. 141
[15] H.A.R. Gibb, “Islamic Biographical Literature,” dalam Historians of the Middle East, eds. Bernard Lewis
dan P.M. Holt (London: Oxford University Press, 1962), 54.
[16] Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, Bandung, Pustaka Islamika, 2008, cet-1,h.38-39.
[17] Lukito: Jurnal Ilmiah http://mti.ugm.ac.id/~lukito/knowledge-sharing/menempuh-studi-s3/studi-literatur/
[18] Standar Isi SMP, Jakarta:BSNP, 2006.
[19] Lihat standar isi Pendidikan Agama Islam Tahun 2006, korelasikan dengan standar isi IPS SMP.
[20] Abdul Latif, Pendidikan Berbasis Nilai Kemasyarakatan, Bandung: Refika Aditama, 2009, Cet-2, h.82
[21] Kompas. 13 Agustus 2005
[22] Bruce Joice.et.All, Models of Teaching, New Jersey, Pearson Education, Terjemahan Model-model Pengajaran, Jogjakarta, Pustaka Pelajar, 2011, cet-2.
[23] herni-n10tangsel.blogspot.com/ inovasi metode pembelajaran sejarah
[24] Abudin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana Prenada Group, 2009, Cet-1, h.87-100
[25] Abudin Nata, Manajemen Pendidikan : Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Group, 2008, cet-3, h,19-25